Viral Video Bintang Emon Sindir Pelaku Penyiraman Novel Baswedan, Begini Isinya

Pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik seniorKPK, Novel Baswedan memasuki tahap tuntutan jaksa. Tim Jaksa menuntut Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis satu tahun penjara.

Sontak saja tuntutan itu menjadi sorotan publik karena dinilai tidak adil. Beragam reaksi pun muncul, salah satunya dari komikaBintang Emon. Bintang sampai menggunggah sebuah video yang menyindir para pelaku penyiraman air keras tersebut.

Setiap kalimat yang disampaikan Bintang terasa begitu menohok dan dianggap benar, hingga dibanjiri pujian. Berikut ulasan lengkapnya.

Teori Gravitasi Bumi

Bintag Emon sang pelawak tunggal yang mulai melejit namanya di dunia hiburan sejak 2017 itu, memang kerap kali menyindir hal-hal yang tegah hangat diperbincangkan.

Termasuk kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, yang dianggap pelakunya tak bisa beralibi secara logis dengan mengaku tidak sengaja. Sampai Bintang mengumpamakan pada teori gravitasi, jika disiram air dari atas ke bawah.

“Katanya nggak sengaja, tapi kok bisa sih kena muka? Pan kita tinggal di bumi. Gravitasi pasti ke bawah, nyiram badan, nggak mungkin meleset ke muka. Kecuali pak Novel Baswedan jalannya hand stand, bisa lu protes, ‘Pak hakim, saya niatnya nyiram badan, cuma gara-gara dia jalannya bertingkah jadi kena muka’, bisa, masuk akal,” ujar Bintang.

Cek Kebenaran Hukum dan Kejadian Sebenarnya

Melalui video singkat Bintang Emon, berdurasi 1.43 menit itu sudah disukai lebih dari enam juta pengguna Instagram.

Setelah mengaitkan dengan teori gravitasi, dia kembali mengingatkan untuk mengecek lagi letak kesalahan sang korban mengapa pelaku mengaku tidak sengaja.

“Sekarang tinggal kita cek, yang nggak normal cara jalannya pak Novel Baswedan atau hukuman buat kasusnya?,” tanya Bintang Emon.

Cara Kasih Pelajaran yang Tepat Versi Bintang Emon

Penganiayaan yang diakui oleh Rahmat dan Ronny atas ketidaksengajaan itu, masih menimbulkan rasa penasaran. Menurut Bintang, jika ingin memberi pelajaran bisa dengan cara lain yang lebih aman dan bisa introspeksi diri menjadi lebih baik.

“Katanya, cuma buat ngasih pelajaran bos. Lu kalau mau kasih pelajaran, pas pak Novel Baswedan jalan lu pepet, lu bisikin, ‘Eh, tahu nggak kita ada group yang nggak ada elunya’. Terus lu pergi, nah pasti insecure itu, ‘Salah gua apa ya?’. Introspeksi pak Novel, pelajaran jatuhnya,” kata Bintang.

“Nah air keras dari namanya juga keras, kekerasan. Nggak mungkin keairan,” tambahnya.

Diduga Kesengajaan

Tak berhenti di situ, keganjilan selanjutnya mengapa para pelaku rela bangun lebih pagi. Apalagi di waktu subuh merupakan momen yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat banyak godaan setan untuk memilih terlelap.

“Katanya kagak sengaja, tapi niat bangun Shubuh. Eh asal lo tahu, shubuh itu waktu salat yang godaan setannya paling kuat. Banyak yang kagak bangun shubuh itu, sering itu, gua, temam-teman gua, banyak yang kelewat,” tegas Bintang.

Bangun Subuh, Tapi Bikin Bangga Para Setan

Saat bisa bangun lebih pagi, seharusnya menjadi sebuah prestasi tersendiri untuk bekerja atau mendekat pada Tuhan.

Lain halnya dengan pelaku Rahmat dan Ronny yang dinilai oleh Bintang, mereka telah membanggakan para setan.

Seandainya tidak sengaja, alangkah baiknya memilih kembali tidur daripada mencelakai orang lain.

“Tapi ini ada, yang bangun shubuh, bukan buat salat shubuh. Buat nyiram air keras ke orang yang baru pulang salat shubuh, jahat nggak? Jahat. Siapa yang diuntungin? Setan. Jadi ada pembenaran, tuh kan benar, mending tidur saja. Sekalinya melek malah nyelakain orang kan lu,” papar Bintang.

“Ngerasa benar setan gara-gara elu, respect setan sama elu itu, ish mantap lah. Lah kok ada tukang bakso,” tutupnya.

Kronologi Penyiraman Air Keras

Jaksa Penuntut Umum Fredik Adhar Syaripuddin dalam dakwaan mengungkapkan, bahwa Rahmat Kadir Mahulette mendatangi asrama temannya, Ronny Bugis pukul 03.00 WIB untuk minta bantuan.

Rahmat Kadir Mahulette membawa cairan asam sulfat (H2SO4) di dalam gelas mug yang dibungkus plastik hitam.

“Terdakwa Rahmat Kadir Mahulette meminta mengantarkannya ke daerah Kelapa Gading Jakarta Utara,” ujar Fredrik tuntutannya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (11/6).
Selanjutnya, kedua pelaku menuju perumahan di Jl. Deposito Blok T No.8 RT.003 RW.010 Kelurahan Pegangsaan Dua Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sembunyi di belakang mobil yang terparkir di sekitar Masjid Al-Ikhsan, tepatnya diujung jembatan. Terdakwa Ronny Bugis duduk di atas motor sembari mewaspadai setiap orang yang keluar dari masjid.

Sedangkan terdakwa Rahmat memberi instrukdi untuk mendekat ke arah Novel Baswedan yang hendak pulang ke rumah.

“Terdakwa Rahmat Kadir Mahulette menyampaikan akan memberikan pelajaran kepada seseorang dan meminta Ronny Bugis mengendarai motornya secara pelan-pelan ke arah Novel Baswedan,” ucap Fredrik.

Cairan asam sulfat (H2SO4) disiramkan dari atas kepala hingga badan Novel Baswedan, dan kedua pelaku langsung tancap gas meninggalkan lokasi kejadian.

Kondisi Parah Novel Baswedan

Akibat tindakan seorang anggota kepolisian, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette tersebut, Novel Baswedan mengalami luka berat di bagian mata kanan dan kiri. Insiden tersebut berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya panca indera penglihatan.

“Sebagaimana VISUM ET REPERTUM Nomor : 03/VER/RSMKKG/IV/2017 tertanggal 24 April 2017 yang dikeluarkan oleh Rumah sakit Mitra Keluarga yang telah memeriksa Novel Baswedan,” ujar Fredik.

Seharusnya Hukuman 7 Tahun, Sesuai Surat Dakwaan

Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette dinyatakan melakukan penyerangan terencana dan menimbulkan luka berat pada korban.

Keduanya mengaku atas dasar niat dendam atau pribadi. Terdakwa menilai, Novel telah berkhianat pada Polri saat sudah berstatus sebagai penyidik KPK.

Sebelumnya, menurut surat dakwaan, keduanya bisa dijatuhi sejumlah pasal, yakni Pasal 351 atau Pasal 353 atau Pasal 355 ayat ayat (1) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dengan hukuman sekurangnya 7 tahun penjara.

“Semua unsur Pasal 353 ayat (2) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP seperti di dakwaan subsider terbukti. Sehingga tidak perlu dibuktikan. Semua unsur dapat dibuktikan secara sah dan meyakinkan. Semua unsur tindak pidana sebagaimana dakwaan subsider meyakinkan ada hubungan persesuaian antara fakta perbuatan,” ucap Jaksa membacakan pasal, disangkakan terhadap Rahmat.

Keringanan Hukuman Jadi 1 Tahun Penjara

Ronny Bugis yang bertugas membantu terdakwa Rahmat Kadir Mahulette, telah dituntut hukuman pidana satu tahun penjara.

Kendati demikian, terdakwa dinilai telah mencoreng nama institusi Polri, melakukan penganiayaan berat, dan terencana terhadap Novel Baswedan.

Melalui berbagai pertimbangan, hukuman berat yang diterima terdakwa telah diringankan menjadi satu tahun penjara. Sebab terdakwa telah berkelakuan baik selama menjalani masa persidangan dan mengabdi pada Polri selama 10 tahun.

Sebelumnya Ronny Bugis merupakan seorang polisi berpangkat Brigadir dalam Korps Brimob.

“Pidana penjara terhadap terdakwa Ronny Bugis dengan hukuman pidana selama satu tahun,” papar Jaksa Fredrik Adhar.

Respon Netizen

Video yang diunggah oleh Bintang Emon dihiasi caption “Ga sengaja” begitu menohok. Sindiran yang disampaikan sedari awal, membuat masyarakat memuji keberaniannya.

Setiap kalimatnya membuat netizen meninggalkan komentar gelak tawa dan setuju, baik dari kalangan masyarakat hingga selebriti.

“Idih mantap cocok jadi anak Hukum bang,” tulis nblh.ayu.

“Rispeeeekkkk bintang always rispek,” tulis hifdzikhoir.

“Dari awal sampe akhir ngakak..,” tulis felixsiauw.

“Aku suka keberanian pemuda ini,” tulis arifbrata.

“Sudah latihan berapa kali itu nyiramnya biar disangka nggak sengaja?,” tulis rang.yo.

Sumber : Merdeka.com

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2020 KLEO Template a premium and multipurpose theme from Seventh Queen

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

Log in with your credentials

Forgot your details?